D4 Bidan Pendidik

Kamis, 09 Juni 2016

BERDUKA DAN KEHILANGAN


            KEHILANGAN  adalah kenyataan/situasi yang mungkin terjadi dimana sesuatu yang dihadapi, dinilai terjadi perubahan, tidak lagi memungkinkan ada atau pergi/hilang. Dapat dikatakan juga sebagai suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada sesuatu yang dulunya ada (Wilkinson, 2005).
                             BERDUKA adalah respon fisik dan psikologis yang terpola spesifik pada individu yang mengalami kehilangan. Respon/reaksi normal, karena melalui proses berduka individu mampu memutus ikatan dengan benda/orang yang terpisah dan berikatan dengan benda/orang baru. Berduka bisa mencakup aspek fisik/psikologis, kognitif dan perilaku. Berduka : reaksi terhadap kehilangan yang merupakan respon emosional yang normal.Berduka  Proses memecahkan masalah  Normal  terkait kematian.Menentukan kesehatan jiwa indiv idu, karena memberi kesempatan individu untuk melakukan koping terhadap kehilangan secara bertahap sehingga dapat menerima kehilangan
      Karakteristik Berduka menurut Burgers dan Lazare (1976)
  1. Berduka yang menunjukkan reaksi syok dan ketidakyakinan.
  2. Berduka yang menunjukkan perasaan sedih dan hampa bila teringat tentang kehilangan orang yang disayangi.
  3. Berduka yang menunjukkan perasaan tidak nyaman dan sering disertai dengan menangis, serta keluhan-keluhan sesak pada dada, rasa tercekik, nafas pendek.
  4. Mengenang almarhum terus menerus
  5. Memperoleh pengalaman perasaan berduka.
  6. Cenderung menjadi mudah tersinggung dan marah.
 (Enam) tingkatan Berduka
      1. Syok
      2. Tidak yakin
3. Mengembangkan kesadaran diri
      4. Restitusi
      5. Mengatasi kehilangan
      6. Idealisasi dan hasil
    Proses berduka
       Fase awal
                            Dimulai dengan adanya kehilangan spt kematian.Berlangsung beberapa minggu.Reaksi : syok, tidak yakin atau tidak percaya .perasan dingin, perasaan kebal (mati  rasa) dan bingung.Berakhir setelah beberapa hari,Kembali berduka berlebihan,Menangis dan ketakutan
       Fase Pertengahan
                Dimulai  kira-kira 3 minggu sesudah kematian Berakhir  kurang lebih 1 tahun.
                Pola tingkah laku yang ditunjukan:
                a. Perilaku obsesi, meliputi : pengulangan  pikiran tentang peristiwa kematian.
                b. Suatu pencarian arti dari kematian
       Fase Pemulihan
                Terjadi sesudah kurang lebih satu tahun.Individu memutuskan untuk tdk mengenang masa               lalu.
Meningkat partisipasi pada kegiatan sosial
Kehilangan
       Kehilangan : suatu keadaan ketika  individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada  atau dimiliki, baik sebagian atau keseluruhan.Dapat terjadi : tiba-tiba atau bertahap
       Proses  berduka yang disebabkan oleh kehilangan :
                1. Penyangkalan (denial)
                2. Marah (anger)
                3. Tawar menawar (bargaining)
                4. Depresi
                5. Penerimaan (acceptance)
Tahap Penyangkalan
             Reaksi:  Terkejut, tidak percaya, merasa terpukul, menyangkal pernyataan       kehilangan.Kadang berhalusinasi (seolah-olah masih melihat  atau mendengar suara orang tsb)
            Reaksi fisik : keletihan, kelemahan, wajah pucat, mual,  diare,sesak nafas, detak jantung cepat menangis, gelisah
Tahap Marah
                Individu mulai sadar dengan kenyataan kehilangan. Menunjukkan perasaan marah meningkat yang diproyeksikan pada orang tertentu atau yang ada dilingkungannya.
               
                Reaksi fisik : wajah merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal.
               
Tahap Tawar Menawar:
               Reaksi: Menyatakan kata-kata ”seandainya saya hati-hati”, “kenapa harus terjadi pada  keluarga saya”.
Tahap Depresi:
                Reaksi : menarik diri, tidak mau bicara, putus asa.
                Reaksi fisik: menolak makan, susah  tidur, letih, libido menurun.
Tahap Penerimaan :
                Reorganisasi perasaan kehilangan Gambaran objek atau orang yang hilang mulai dilepas perlahan, perhatian dialihkan pada objek baru
SUMBER GANGGUAN ATAU KEHILANGAN
       Eksternal:
                Pikiran, sikap, tindakan yang tidak sesuai dengan nilai individu,keyakinan atau moral dan konflik interpersonal yang mengancam konsistensi individu, harga diri,rasa aman
       Internal :
                               Kematian orang yang disayangi, penghentian kerja (PHK), penyakit atau kehilangan tubuh tertentu
Jenis Kehilangan
       Kehilangan orang bermakna, mis: akibat kematian atau dipenjara
       Kehilangan kesehatan bio-psiko-sosial, mis: menderita penyakit, amputasi, kehilangan pendapat, kehilangan perasaan tt diri, kehilangan pekerjaan, kehilangan kedudukan, kehilangan kemampuan seksual
       Kehilangan milik pribadi
                (mis: uang,perhiasan)
Faktor Predisposisi
       Genetik
                Riwayat kelg depresi  sulit mengembangkan sikap optimistik dalam menghadapi permasalahan.
       Kesehatan fisik
                Keadaan fisik seha cenderung mampu mengatasi stress
       Kesehatan mental
                Indiv gg jiwa dg riwayat depresi   merasa masa depan suram peka dg situasi kehilangan
       Pengalaman kehilangan masa lalu
                Kehilangan masa kanak-kanak mempengaruhi kemampuan menghadapi kehilangan dimasa dewasa.
Faktor Presipitasi
Stres dari perasaan kehilangan:Stres nyata atau Imajinasi,Kehilangan bersifat bio-psiko-sosial,Kehilangan kesehatan, kehilangan harga diri, kehilangan pekerjaan,kehilangan peran dalam keluarga, kehilangan posisi di masyarakat.
Implikasi Keperawatan
       Pengkajian
                 1. Mengkaji pasien dan anggota keluarga berduka   menentukan tingkat berduka
               2. Mengkaji gejala klinis berduka: sesak di dada, nafas pendek, berkeluh kesah, perasaan penuh diperut, kehilangan kekuatan otot, distres  perasaan yg hebat.
               3. Kaji karakteristik berduka, kaji respon fisiologis, respon tubuh terhadap kehilangan (reaksi stress)
               4. Faktor yg mempengaruhi reaksi stress : umur, culture, keyakinan spiritual, peran seks, status sosek.
                5. Faktor predisposisi
                6. Faktor presipitasi dan mekanisme koping.
       Diagnosa Keperawatan
                                a. berduka kompleks
                                b. berduka antisipasi
               
Intervensi Keperawatan
Tujuan: Pasien dapat melalui proses berduka secara normal dan sehat
Prinsip :
a. Tahap Penyangkalan: (memberikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan)
                1) Dorong pasien mengungkapkan perasaan duka
                2) Tingkatkan kesadaran pasien scr bertahap, siap mental  
              3) Dengarkan pasien dengan penuh pengertian, jangan menghukum atau menghakimi
                4) Jelaskan bahwa sikap pasien wajar terjadi      
                5) Beri dukungan nonverbal : memegang tangan, menepuk bahu
              6) Jawab pertanyaan pasien dgn bahasa sederhana, jelas dan singkat.
              7) Amati respon pasien selama bicara
              8) Tingkatkan kesadaran pasien scr bertahap

b. Tahap marah
                1) Beri dorongan dan kesempatan pasien mengungkapkan rasa marahnya  secara verbal
                2) Dengarkan dgn empaty, jangan  memberi respon yang mencela
                3) Bantu klien memanfaatkan sumber sumber pendukung
c. Tahap Tawar menawar
                 Bantu pasien mengidentifikasi rasa bersalah dan rasa takutnya
                 1) Amati perilaku klien
                 2) Diskusikan bersama pasien tentang perasaan
                 3) Tingkatkan HD pasien
                 4) Cegah tindakan merusak diri
d. Tahap Depresi (mengidentifikasi tk depresi, resiko merusak diri dan membantu pasien mengurangi rasa bersalah)
                1) Amati perilaku pasien
                2) Diskusikan bersama pasien mengenai perasaan
                3) Cegah tindakan merusak diri
                4) Hargai perasaan pasien
                5) Bantu pasien mengidentifikasi dukungan positif yang terkait dengan kenyataan
             6) Beri kesempatan pasien menungkapkan  perasaannya bila perlu biarkan ia menangis sambil tetap didampingi
                7) Bahas pikiran yang selalu timbul bersama pasien
               
e. Tahap Penerimaan (membantu pasien menerima kehilangan yang tidak bisa dielakkan)
                1) Sediakan waktu untuk mengunjungi pasien secara  teratur
                2) Bantu pasien/kelg berbagi rasa, karena  biasanya setiap anggota kelg tdk berada pada
                    tahap yg sama pada saat bersamaan
TINDAKAN KEPERAWATAN KELUARGA
Tujuan tindakan keperawatan:  Keluarga dapat merawat pasien yang berduka
Tindakan keperawatan:
  1. Mengenal masalah berduka pada pasien
  2. Menjelaskan pada keluarga tentang cara merawat pasien dengan berduka berkepanjangan
  3. Mempraktekkan pada keluarga cara merawat pasien dengan berduka berkepanjangan
  4. Mengevaluasi kemampuan pasien yang berduka
  5. Melakukan rujukan






Tidak ada komentar :

Posting Komentar