A. Mengumpulkan semua data yang di
butuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan
B. Menginterpretasikan
data untuk mengidentifikasi diagnosis atau masalah
C. Mengidentifikasi
diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
D. Menetapkan
kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan kondisi klien
E. Menyusun
rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan
keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya.
F.
Pelaksanaan
langsung asuhan secara efisien dan aman.
G. Mengevaluasi
keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali manajemen proses
untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efekti.
Langkah-Langkah diatas dapat
dijelaskan sebgai berikut :
Langkah 1 : Tahap Pengumpulan data dasar
Pada langkah pertama ini di kumpulkan semua
informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan
kondisi klien.Untuk memperoleh data di lakukan dengan cara anamnesa,
pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital,
pemeriksaan khusus dan pemeriksaan penunjang.Tahap ini merupakan langkah awal
yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai
dengan kasus yang dihadapi yang akan menentukan proses interpretasi yang benar
atau tidakdalam tahap selanjutnya.Sehingga dalam pendekatan ini harus komprehensif
meliputi data subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan
kondisi pasien yang sebenarnya dan valid.Kaji ulang data yang sudah di
kumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.
Contoh: Bila seorang pasien datang meminta bantuan pada bidan, maka langkah
awal dari kegiatan yg di lakukan adalah mengidentivikasi masalah kemudian menganalisis
masalah tsb. Misal:
1) Data subyektif
·
Nama : ibu
desi
·
Umur: 25
tahun
·
Alamat: Jl.
Mangga kuning
·
Pekerjaan:
ibu rumah tangga
·
Agama: islam
·
Pendidikan:
sarjana
2) Data
obyektif
·
Pemeriksaan
fisik
·
Pemeriksaan
khusus
·
Pemeriksaan
penunjang
Langkah II : Interpretasi data dasar
Pada langkah ini di lakukan identifikasi
terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang
telah di kumpulkan.Data dasar yangtelah di kumpulkan di interpretasikan
sehingga dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik.Rumusan diagnosis
danmasalah keduanya di gunakankarena masalah tidak dapat didefenisikan seperti
diagnosis tetapi tetap dibutuhkan penanganan.Masalah sering berkaitan dengan
hal-hal yang sedang di alami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai
dengan hasil pengkajian.Masalah juga sering menyertai diagnosis.
Diognosa kebidanan adalah diagnosa yang di
tegakan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi stndar nomenklatur
diagnosa kebidanan.Standar nomenklatur diagnosis kebidanan :
1. Di akui dan telah di sahkan oleh
profesi.
2. Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan.
3. Memiliki ciri khas kebidanan.
4. Di dukung oleh clinical judgement
dalam praktik kebidanan.
5. Dapat diselesaikan denagan manajemen
kebidanan
Contoh: Ibu dengan G (gravida)1, P(partus)0, A(abortus)0, kehamilan 36
minggu, puki(letak punggung janin kiri), preskep ( presentase kepala),DJJ
positiv (+), tidak
percaya diri
kemungkinan di sebabkan oleh kurang pengertian tentang kehamilan.Masalah
potensial kemungkinan terjadi partus lama. Prognosa ke arah baik.
Langkah III: Mengidentifikasi diagnosis atau
masalah potensialdan mengantisipasi penanganannya.
Pada
langkah ini bidan mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial
berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasi.Langkahini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan di lakukan pencegahan.Bidan diharapkan dapat
waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosis atau masalah potensial ini menjadi
benar-benar terjadi.Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang
aman.Pada langkah ketigaini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah
potensial, tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi
juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosisi potensial
tidak terjad.Sehingga langkah ini benar merupakan langkah yang bersifat
antisipasi yang rasional atau logis.Kaji ulang apakah diagnosis atau masalah
potensial yang diidentifikasi sudah tepat.
Contoh: Tujuan asuhan pada ibu yang dalam keadaan
inpartu dankurang siap dalam melahirkan secara fisiologis, maka di dalam
langkah-langkah tindakan yang dilakukan oleh bidan ialah memberi doronganagar
ibu memiliki kemampuan kuat untuk melahirkan dan kemudian memberikan bimbingan
dalam menyelesaikan persalinan.
Langkah IV :
Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera untuk melakukankonsultasi,
kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan klien.
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera
oleh bidan atau dokter dan atau untuk di konsultasikan atau di tangani bersama
dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.Langkah
keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan.Jadi
manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal
saja tetapi juga selama wanita tesebut bersama bidan terus menerus, misalnya
pada waktu wanita tersebut dalam persalinan.Data baru mungkin saja di kumpulkan
dan di evaluasi.Beberapa data mungkin mengidentifikasi situasi yang gawat
dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau
anak.
Dari data yang di kumpulkan dapat
menunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan segera sementara yang lain
harus menunggu intervensi dariseorang dokter.Situasi lainnya tidak merupakan
kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.Demikian
juga bila ditemukan tanda-tanda awal dari preeklapsia, kelainan panggul, adanya
penyakit jantung, diabetes atau masalah medisk yang serius, bidan perlu
melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.Dalam kondisi tertentu
seorang wanita mungkin jugaakan memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter
atau tim kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi atau seorang ahli
perawatan klinis bayi baru lahir.Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi
kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi
yang paling tepat dalam manajemen asuhan kebidanan.
Pada penjelasan di atas menunjukkan
bahwa bidan dalam melakukan tindakan harus sesuai dengan prioritas masalah atau
kebutuhan yang dihadapi kliennya.Setelah bidan merumuskan tindakan yang perlu
di lakukan untuk mengantisipasi diagnosis atau masalah potensial pada step
sebelumnya, bidan jugaharus merumuskan tindakan segera yang harus di rumuskan
untuk menyelamatkan ibu dan bayi.Dalam rumusan ini termasuk tindakan segera
yang mampu dilakukan secara mandiri, secara kolaborasi atau bersifat
rujukan.Kaji ulang apakah tindakan segera ini benar-benar di butuhkan.
Langkah V: Menyusun
rencana asuahan yang menyeluruh
Pada langkah ini di rencanakan
asuhan yang menyeluruh di tentukan oleh langkah-langkah sebelumnya.Langkah ini
merupakan kelanjutan manajementerhadap masalah atau diagnosa yang telah
diidentifikasi atau di antisipasi. Pada langkah ini infomasi data yang tidak
lengkap dapat di lengkapi.Rencana asuhanyang menyeluruh tidak hanya meliputi
apa-apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah
yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita
seperti apa yang di perkirakan akan terjadi berikutnya, apakah di butuhkan
penyuluhan, konseling, dan apakah perlu rujukanklien bila ada masalah-masalah
yang berkaitan dengan sosial ekonomi-kultural atau masalah psikologi. Dengan
perkataan lain, asuhan terhadap wanita sudah mencangkup setiap hal yang berkaitan
dengan setiap aspek asuhan kesehatan.Setiap rencana asuhan haruslah disetujui
oleh kedua pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat di laksanakan dengan
efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut. Oleh karena itu
pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan
hasil pembahasan rencanaasuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan
bersama sebelum melaksanakannya.
Semua keputusan yang dikembangkan dalam
asuhan penyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan
pengetahuan dan teori yang up to dateserta sesuai dengan asumsi tentang apa
yang akan di lakukan klien.Kaji ulang apakah rencana sudah meliputi semua aspek
asuhan kesehatan terhadap wanita.
Contoh: Di
dalam melakukan tindakan pada kasus partus kala II, bidan melakukan prosedur:
·
Ibu
mengendan sewaktu his menguat
·
Menekan
dinding perineum agar tidak robek
·
Mempermudah
gerak rotasi pada bayi
·
Mengeluarkan
bahu dan seterusnya sampai bayi lahir dengan sempurna
Langkah VI : Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman.
Pada langkah keenam ini rencana
asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima di
laksanakan secara efisien dan aman.Perencanaan ini bisa di lakukan seluruhnya
oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan
lainnya.Walau bidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab
untuk mengarahkan pelaksanaannya, misalnya memastikan langkah-langkah tersebut
benar-benar
terlaksana.Dalam
situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami
komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah
tetap bertanggungjawab terhadap pelaksanaannya rencana asuhan bersama yang
menyeluruh.Manajemen yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta
meningkatkan mutu dan asuhan klien.Kaji ulang apakah semua rencana asuhan telah
dilaksanakan.
Langkah VII: Mengevaluasi
Pada langkah ke tujuh ini di lakukan evaluasi
keefektivan dari asuhan yang sudah di berikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan
bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana telah
di identivikasi dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dapat di anggap
evektiv jika memang benar evektif dalam pelaksanaannya.
Ada kemungkinan bahwa sebagian
rencana tersebut evektiv sedangkan sebagian belum evektif. Mengingat bahwa
proses manajemen asuhan kebidanan ini merupakan suatu kegiatan yang
berkesinambungan maka perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang
tidak evektif melalui manajemen untuk mengidentivikasi mengapa proses manajemen
tidak evektif serta melakukan penyesuaian terhadap rencana asuhan tersebut.
Langkah-langkah proses manajemen
umumnya merupakan pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang
mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinis, karna proses
manajemen tersebut berlangsung didalam situasi klinik dan dua langkah terakhir
tergantung pada klien dan situasi klinik, maka tidak mungkin proses manajemen
ini di evaluasi dalam tulisan saja.
Contoh:Ibu
yang telah menyelesaikan persalinan. Di dalam evalusi menunjukan tekanan darah
dan denyut nadi normal, bayi lahir dengan selamat dan tidak ada kelainan,serta
plasenta keluar dengan spontan, dan tidak terjadi perdarahan setelah partusMaka
hasil evaluasi menunjukan bahwa tujuan pertolongan persalinan terapai dan hasilnya
ibu dapat menyelesaikan persalinan dengan selamat dalam keadaan sehat,di sertai
bayi yang di lahirkan juga dalam keadaan sehat.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar