D4 Bidan Pendidik

Kamis, 02 Juni 2016

MAKALAH Penerapan teori Ernestine Weidenbach dalam praktek kebidanan



                                                                          BAB II
ISI
A. SEJARAH KEHIDUPAN ERNESTINE WIEDENBACH
      Wiedenbach adalah seorang nurse-midwife yang juga teoris di bidang keperawatan. Ia berkualifikasi sebagai perawat pada tahun 1925, dan menjadi nurse-midwife pada tahun 1946. Salah satu karya besarnya adalah kolaborasi dengan filsuf Dickoff dan James tahun 1960 ( Dickoff et al.,1992 a dan b ) ketika ia menjadi mahasiswa di Yale University School of Nursing.
       Ernestine Wiedenbach sudah pernah bekerja dalam suatu proyek yang mempersiapkan persalinan berdasarkan teori Dr. Grantley Dick Read. Wiedenbach mengembangkan teorinya secara induktif berdasarkan pengalaman dan observasi dalam praktik.
B. PENERAPAN KONSEP MODEL KEBIDANAN MENURUT TEORI ERNESTINE WIEDENBSCH
            Menurut Teori Ernestine Wiedenbach konsep model kebidanan dibagi menjadi 5, yaitu :
1.The Agents
   Empat elemen dalam ”clinical nursing” yaitu:
·         Filosofi
Cara yang ditempuh seseorang dalam memikirkan hidup dan
bagaimana kepercayaan mereka mempangaruhi mereka.

·         Tujuan
Sasaran di mana perawat bermaksud mencapai akhir daritindakan yang diambil. Semua aktivitas dimaksudkan untuk mencapai agar sesuatuhal menjadi semakin baik.

·         Praktik
Tindakan di mana perawat melaksanakan sesuatu dalam
rangka memelihara kebutuhan pasien

·         Seni
Kemampuan untuk memahami kebutuhan klien, dan mampu
mengembangkan suatu intuisi dalam hubungan dengan aktivitas mereka
    

     Selain itu penerapan dari tiga poin dasar dalam filosofi keperawatan/ kebidanan menurut ernestine yaitu:
a. Menghargai atas kehidupan yang telah diberikan, maksud dari teori tersebut, bahwa setiap tenaga kesehatan terutama bidan harus menghargai setiap proses kehamilan yang di inginkan serta tetap mempertahankan dan mensupport kehamilan yang tidak diingikan individu.
b. Menghargai sebuah kehormatan, suatu yang berharga, otonomi dan      individualisme pada setiap orang. Bahwa setiap bidan harus menghargai proses fisiologi dan psykologi  seorang ibu yang sedang hamil.  Sebagai seorang bidan, kita tidak di wajibkan mengeluh atas dampak fisiologi yang sedang di alami seorang ibu hamil. Bidan senantiasa mendampingi proses persalinan seorang ibu hamil atau klien.
c. Resolusi dalam menerapkan dinamisasi terhadap orang lain. Bahwa setiap bidan dalam melakukan praktik kebidanan harus mengembangkan  pengetahuannya secara terus menerus sesui dengan kemajuan yang terjadi.
2. The Recipient
      Perawat/bidan memberikan intervensi kepada individu disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan masing-masing.Dalam melakukan tindakan seorang bidan harus mengumpulkan data terlebih dahulu sehingga bidan dapat mengetahui apa saja yang di butuhkan seorang ibu hamil dan riwayat kesehatan  seorang klien sehingga bidan dapat melakukan perencanaan untuk mencegah terjadinya sesuatu di kemudian hari.
3.The Goal/Purpose
       Tujuan dari proses keperawatan adalah membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Bahwa kebutuhan masing-masing individu perlu diketahui sebelum menemukan tujuannya. Bila sudah diketahui kebutuhan ini, maka bidan dapat memperkirakan goal yang akan dicapai dengan mempertimbangkan tingkah laku fisik, emosional atau psikologis yang berbeda dari kebutuhan yang biasanya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dengan memperhatikan tingkah laku fisik, emosional atau psikologis. Untuk bisa mengidentifikasi kebutuhan pasien, seorang bidan harus menggunakan mata, telinga, tangan, serta pikirannya untuk mengumpulkan data dalam mencapai tujuan.

4.The Means
Penerapan  tujuan dari asuhan kebidanan Wiedenbach  yaitu :
a. Identifikasi kebutuhan klien, sebelum menentukan tindakan atau memberikan intervensi, seorang bidan harus melakukan pengumpulan data yang berupa riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, riwayat pernikahan klien.
b. Ministration, yaitu memberikan dukungan dalam pencarian pertolongan yang dibutuhkan. Seorang bidan memberikan asuhan dukungan perencanaan untuk menemukan pertolongan yang tepat kepada klien. Misal seorang klien ingin melakukan KB. Maka seorang bidan dapat memberikan obat serta penanganan yang tepat.
c.  Validation, mengecek apakah bantuan yang diberikan merupakan bantuan yang dibutuhkan. Bahwa setiap bidan mendampingi klien post maupun pasca kehamilan. Misal ada seorang klien pasca melahirkan, jika pasien belum sanggup melakukan aktifitas sendiri, seorang bidan wajib mendampingin klien sesuai kebutuhannya, seperti membantu personal hyginenya.
d. Coordination, koordinasi sumber-sumber yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pasien. Seorang bidan membangun komunikasi dengan klien dan keluarga klien agar dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhan yang sesuai  untuk klien

Untuk bisa membantu pasien, bidan harus mempunyai :
a.Pengetahuan, agar seorang bidan mampu  memahami kebutuhan dan kelainan-kelainan  pada klien
b.Penilaian, seorang bidan mampu mengambil keputusan dalam memberikan tindakan kepada klien
c.Ketrampilan, seorang bidan memiliki ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan pasien.
5. Framework
      Yaitu kerangka kerja yang terdiri dari lingkungan sosial, organisasi, dan profesional. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari bidan tidaklah bekerja sendiri namun ia juga memerlukan tenaga kesehatan yang lainnya atau di sebut managemen team.



C. TEORI KEBIDANAN  MENURUT  ELA JOR LERHMAN DAN MORTEN
      Dalam teori ini Lehrman menginginkan agar bidan dapat melihat semua aspek praktik memberikan asuhan pada wanita hamil dan memberikan pertolongan pada persalinan.
Lehrman mengemukakan  8 konsep yang penting dalam pelayanan antenatal:
1. Asuhan yang berkesinambungan
    Seorang bidan harus memeberikan asuhan kepada wanita secara terus-menerus mulai dari awal kehamilan, persalinan, nifas dan post artum agar klien dapat melewati masa-masa ini dengan baik.
2. Keluarga sebagai pusat asuhan
Keluarga adalah salah satu pusat asuhan yang sangat penting karena    keluarga adalah orang terdekat klien yang dapat memantau kien secara terus menerus, sehingga dalam hal ini seorang bidan harus mempunyai komunikasi yang baik dengan keluarga terutama memeberikan asuhan-asuhan yang dapat membantu sang ibu menjalani asuhan-asuhan tersebut di rumah pada saat sang bidan tidak dapat memantau seara langsung, keluargalah yang berperan.
3. Pendidikan dan konseling merupakan bagian dari asuhan
Memberikan informasi kepada klien adalah salah satu bentuk asuhan yang sangat penting. Selain itu, konseling juga merupakan bagian yang sangat penting dalam pemberian asuhan kepada klien. Konseling bertujuan agar bidan dan klien dapat memahami satu sama lain, sehingga bidan dapat memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan klien.
4. Tidak ada intervensi dalam asuhan
Artinya dalam pelayanan atau memberi asuhan, pelayan kesehatan tidak memberikan asuhan yang tidak seharusnya. Maka dalam hal ini sang bidan harus mulai menganalisa, mengkaji dan memebrikan asuhan yang sesuai.
5. Fleksibilitas dalam asuhan
Penerapnnya adalah seorang bidan dalam melakukan praktiknya tidak boleh kaku saat melakukan tindakan atau pada saat memeberikan asuhan, agar pasien merasa nyaman dengan tindakan yang bidan lakukan.
6.  Keterlibatan dalam asuhan
Dalam memebrikan asuhan, seorang pelayan kesehatan atau bidan harus ikut berpatisipasi atau terlibat dalam melaksanankan asuhan. Contohnya dengan membantu sang ibu untuk memberi nutrisi yang baik untuk janin dengan memebrikan beberapa makanan bergizi atau bisa juga dengan membantu sang ibu memandikan bayi. Intinya adalah pelayan kesehatan atau bidan tidak hanya menyampaikan teori-teori saja tapi juga harus terlibat dalam praktik asuhan tersebut.
7. Advokasi dari pelayanan kebidanan
Tenaga kesehatan menerapkan teori ini dengan selalu memeberikan inform consent atau oersetujuan sebelum melakukan tindakan kepada klien sehingga ada persetujuan dari kedua belah pihak
8. Waktu
Seorang bidan yang profesional akan selalu memberikan pelayanan atau asuhan tanpa mengenal waktu dan bidan tersebut mampu meyelesaikan asuhannya sesuai dengan batas waktu atau tepat waktu agar asuhan-asuhan yang diberikan tidak tertunda-tunda.
Asuhan Partisipatif
     Bidan dapat melibatkan klien dalam pengkajian, evaluasi dan perencanaan pasien klien ikut bertanggung jawab atau ambil bagian dalam pelayanan antenatal. Dalam pemeriksaan fisik, misalnya palpasi; klien akan melakukan palpasi pada tempat tertentu atau ikut mendengarkan denyut jantung.
     Dari delapan komponen yang dibuat oleh Lehrman tersebut kemudian diuji cobakan oleh Morten pada pasien postpartum.
    Dari hasil penerapan tersebut Morten menambahkan 3 komponen lagi ke dalam 8 komponen yang telah dibuat oleh Lehrman, yaitu
§  Tehnik terapeutik
§  Pemberdayaan
§  Hubungan sesama

Ø  Tehnik Terapeutik
Proses komunikasi sangat bermanfaat dalam proses perkembangan dan penyembuhan, misalnya : mendengar aktif, mengkaji, mengklarifikasi, sikap yang tidak menuduh, pengakuan, fasilitas, pemberian ijin.
Ø  Empowerment (pemberdayaan)
Suatu proses memberi kekuasaan dan kekuatan bidan melalui penampilan dan pendekatan akan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengoreksi, memvalidasi, menilai dan memberi dukungan.
Ø  Lateral Relationship (hubungan sesama)
Menjalin hubungan yang baik terhadap klien bersikap terbuka, sejalan dengan klien, sehingga antara bidan dan kliennya nampak akrab, misalnya sikap empati atau berbagi pengalaman
D. PENERAPAN PELAYANAN  ANTENATAL  ATAU PEMBERIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU
1.  KEHAMILAN
      Masa kemahilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dhitung dari hari pertama haid terakhir.
    Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional ibu serta perubahan sosial dalam keluarga. Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilakn kelahiran bayi sehat, cukup bulan, melalui jalan lahir (normal), namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu pelayanan atau asuhan antenatal merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kelahiran normal. Ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa drinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal.
Tujuan asuhan antenatal adalah :
        Memperhatiakan perkembangan kemhamilan demi kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
        Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi.
        Mengenali sejak dini ketidaknormalan atau komplikasi yang terjadi pada kehamilan ibu.
        Mempersiapkan proses persalinan yang cukup bulan, normal dan keselamatan ibu dan bayi.
        Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan ibu dapat memberikan ASI eklusif.
        Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar bayi dapat tumbuh secara normal.
Asuhan antenatal yang diberikan bidan pada masa kehamilan ibu A adalah :
1. Mengumpulkan data-data dari ibu A, seperti :
• Biodata
• Riwayat kehamilan
• Riwayat kebidanan
• Riwayat kesehatan dahulu dan sekarang
• Riwayat sosial ekonomi
2.Melakukan pemeriksaan fisik, contohnya :
•Tekanan darah
• Denyut jantung ibu A
•Gerakan janin
3.Membantu ibu dan keluarganya untuk mempersiapkan kelahiran dan kemungkinan keadaan darurat, seperti :
• Mempersiapkan pertolongan dan tempat kelahiran serta keuangan untuk persiapan persalinan.
• Mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi seperti, tempat dan transportasi ke tempat rujukan, mempersiapkan donor darah, finansial, dan memilih pembuat keputusan jika pihak pertama tidak ada ditempat.
4. Memberi konseling pada ibu A tentang gizi, perubahan fisiologi,      menginformasikan pada ibu A untuk mencari pertolongan segera pada saat mendapati tanda-tanda bahaya, merencanakan dan mempersiapakn kelahiran yang bersih dan aman di rumah, menjaga kebersihan diri.

2.PERSALINAN
        Persalian adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan yang normal adalah jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan tanpa disertai adanya penyulit.
Asuhan antenatal yang diberikan bidan pada masa persalinan ibu A adalah :
1.Membantu ibu dalam persalinan jika ibu terlihat gelisah
2.Memberi dukungan emosional pada ibu.
3.Memberikan informasi atas kemajuan persalinannya.
4.Memeberikan perhatian yang lebih kepada ibu.
5.Menyarankan ibu untuk sering berjalan.
6.Melibatkan suami atau ibunya untuk memberi semangat sang ibu.
7.Mengajarkan teknik bernafas.
8.Memberi minum yang cukup kepada ibu agar kebutuhan energinya tercukupi dan mencegah dehidrasi.
9. Bidan harus melakukan pemantauan sesering mungkin hingga bayi dilahirkan.

3. MASA NIFAS
    Masa nifas dimulai beberapa jam setelah lahirnya janin dan mencakup 6 minggu berikutnya.
Asuhan antenatal yang diberikan bidan pada masa nifas kepada ibu A adalah:
1.      Membersihkan bayi yang sudah dilahirkan.
2.      Mendekatkan bayi kepada ibu A.
3.      Menganjurkan ibu A untuk memeberi ASI awal kepada bayinya.
4.      Memastikan ibu A mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
5.      Memastikan ibu A dapat menyusui bayinya dengan baik.
6.      Memberikan konseling 

pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat,   menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
7.      Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami ibu atau bayinya.
8.      Memberikan konseling untuk KB
9.      Menganjurkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri

                                                   
                                                                         BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dalam Teori Ernestine Wiedenbach terdapat 5 konsep model asuhan kebidanan yaitu:
1.The agent           : perawat, bidan, atau tenaga kesehatan lain
2.The recipient     : wanita, keluarga, masyarakat
3.The goal              : goal dari intervensi (tujuan)
4.The means          : metode untuk mencapai tujuan
5.The framework : kerangka kerja (organisasi sosial, lingkungan sosial,    dan professional)
Serta terdapat 4 tahap untuk mencapai tujuan dari asuhan kebidanan antara lain :
a.      Identifikasi kebutuhan klien
b.      Ministration, yaitu memberikan dukungan dalam pencarian pertolongan yang dibutuhkan
c.       Validation, mengecek apakah bantuan yang diberikan merupakan bantuan yang dibutuhkan
d.      Coordination, koordinasi sumber-sumber yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pasien
       Dalam teori Ela joy lehrman dapat disimpulkan bahwa pelayanan kebidanan antenatal pada ibu A harus diberikan sesuai dengan prosedur masing-masing tahap (kehamilan, persalinan dan nifas) dengan melibatkan keluarga dan masyarakat. Sehingga asuhan yang diberikan benar dan bermanfaat.
B.  Saran
         Demikianlah makalah ini kami buat dengan sebaik-baiknya, namun sebagai manusia penulis selalu tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun kami sangat diharapkan untuk menyempurnakan makalah ini, agar kami dapat memperbaiki pembuatan makalah kami diwaktu yang akan datang.
        Meskipun Makalah ini telah rampung mulai dari bab pertama hingga bab terakhir, tapi penulis yakin masih banyak pembahasan yang belum terurai secara sempurna, maka dari itu penulis berharap rekan-rekan mahasiswa bisa memanfaatkan makalah ini sebagai bahan pijakan untuk diskusi demi melengkapi referensi pengetahuan tentang Kebidanan dan segala aspek yang berhubungan dengannya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar