D4 Bidan Pendidik

Rabu, 01 Juni 2016

MANAJEMEN PELAYANAN KEBIDANAN

 


1. Pengertian
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yangdigunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secarasistematis mulai dari pengkajian, analisis data didagnosis kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Menurut Buku 50 Tahun IBI 2007.
Menurut Depkes RI 2005 Manajemen Kebidanan adalah metode dan pendekatan pemecahan masalah ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
Helen Varney (1997)Manajemen kebidanan adalah proses pemecahanmasalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dantindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keteranpilan dalam rangkaian tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien.
Proses pelaksanaan pemberian pelayanan kebidanan untuk memberikan asuhan kebidanan kepada klien dengan tujuan menciptakan kesejahteraan bagi ibu dan anak,kepuasan pelanggan dan kepuasan bidan sebagai provider.

 Langkah-langkah dalam manajemen pelayanan kebidanan:
  
 Langkah I : Pengumpulan Data
Pengumpulan Data Dasar yaitu Pegumpulan informasi yang akurat danlengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.

Anamnesa 
a.     Biodata (Nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, pendidikan)
b.    Riwayat Menstruasi (menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknyadarah yang keluar, aliran darah yang keluar, mentruasi terakhir, adakah dismenorhe, gangguan sewaktu menstruasi (metrorhagia, menoraghi), gejalapremenstrual)
c.     Riwayat perkawinan (kawin brp kali, usia kawin pertama kali)
d.    Riwayat Kesehatan (Gambaran penyakit lalu, riwayat penyakit keluarga, riwayat kehamilan sekarang )
e.     Riwayat Kehamilan, Persalinan & Nifas
Ø  Jumlah kehamilan dan kelahiran : G (gravid), P (para), A (abortus), H (hidup).
Ø  Riwayat persalinan yaitu jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanyamelahirkan, cara melahirkan.
Ø  Masalah/gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan, missal : preeklampsi, infeksi, dll)
f.     Bio-psiko-sosial spiritual
g.    Pengetahuan Klien 
h.     Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital 
i.      Pemeriksaan khusus (Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi) 
j.      Pemeriksaan penunjang (Laboratorium, catatan terbaru dan sebelumnya)

       Langkah II : Interpretasi Data Dasar 
     Dengan melakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan.
     Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi Standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
      
       Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan :
Ø  Diakui dan telah disyahkan oleh profesi
Ø  Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
Ø  Memiliki ciri khas kebidanan
Ø  Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan
Ø  Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan

       Langkah III: Mengidentifkasi Diagnosa atau Masalah Potensial.
         Langkah ini berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasi. Bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah  potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis potensial tidak terjadi. Merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional atau logis.

      Langkah IV: Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan
 Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera untuk Melakukan Konsultasi, Kolaborasi dengan Tenaga Kesehatan lain berdasarkan kondisi Klien.

       Langkah V: Merencanakan Asuhan
Merencanakan Asuhan yang  menyeluruh semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien.

       Langkah VI: Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman.
 Dalam situasi di mana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut.  Manajemen yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.
 
   

         Langkah VII: Evaluasi.
       Evaluasi ke efektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi : pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi dalam diagnose dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.

        2.   Tujuan SOP :
Ø  Agar petugas menjaga konsistensi pada  tingkat kinerja tertentu
Ø  Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi
Ø  Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas terkait
Ø  Melindungi organisasi dan staf dari malpraktik atau kesalahan administrasi
Ø  Menghindari kegagalan, kesalahan, keraguan dan inefisiensi

3.    Fungsi SOP :
Ø  Memperlancar tugas petugas/tim
Ø  Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan
Ø  Mengetahui dengan mudah hambatan-hamabatan
Ø  Mengarahkan petugas untuk disiplin
Ø  Sebagai pedoman

      4.    Tujuan Operasional suatu manajemen harus mengandung unsur-unsur:
Ø  WHAT : Kegiatan apa yang akan dikerjakan harus jelas.
Ø  WHO : Sasarannya harus jelas, siapa yang akan mengerjakan, beberapa yang ingin dicapai.
Ø  WHEN : Kejelasan waktu untuk menyelesaikan kegiatan.
Ø  HOW : Prosedur kerjanya (SOP) jelas, sesuai dengan SPK (Standar Pelayanan Kebidanan).
Ø  WHY : Mengapa kegiatan itu harus dikerjakan, dengan penjelasan yang jelas.
Ø  WHERE : Kapan dan dimana kegiatan akan dilakukan tertera jelas.
Ø  Jika perlu ditambah dengan : WHICH : Siapa yang terkait dengan kegiatan tersebut ( lintas sektor walaupun lintas program yang terkait ).

Tidak ada komentar :

Posting Komentar