Tinjau dari sudut sosial
budaya, penduduk NTB masih tergolong tradisional yang bersumber pada kebudayaan
suku asli masyarakat, yaitu suku Sasak di pulau Lombok, suku Mbojo di kabupaten
Bima dan Kabupaten Dompu serta suku Samawa di kabupaten Sumbawa dan Sumbawa
Barat. Dua kebudayaan besar yang pernah mempengaruhi perkembangan sejarah di
Indonesia yaitu kebudayaan Hindu dan kebudayaan islam masih berkembang dan
berakar pada masyarakat NTB, di antaranya Sasak, Sumbawa, dan Mbojo dan bahasa
daerah yang di gunakan, yaitu bahasa Sasak, bahasa Sumbawa, dan bahasa Mbojo.
Gejala kebudayaan dalam kehidupan masyarakat NTB yang sangat dominan
adalah ketergantungan dan kepatuhan masyarakat terhadap tokoh-tokoh pemuka
agama atau tokoh adat sebagai panutan dalam kehidupan sehari-hari, karenanya
pengaruh kehidupan masyarakat yang dilandasi sistem patriakhis. Interprestasi
ajaran agama yang belum tepat sering mempengaruhi sikap dan pandangan
masyarakat yang diimplementasikan pada sistem nilai sosial dan budaya sehingga
mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap kedudukan perempuan dan laki-laki
dalam kehidupan bermasyarakat.
Budaya
di NTB merupakan modal dasar yang sangat penting sebagai salah satu sumber daya
utama pembangunan daerah. Selain itu, budaya daerah yang sangat beragam ini
mencerminkan kebudayaan nasional, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
keahlian yang bersifat spesifikasi dan unik.
Pembangunan bidang
kebudayaan dalam tahun 2005 diarahkan untuk mendukung pembinaan dan peningkatan
pelayanan sosial. Sasaran pembangunan kebudayaan pada tahun 2005 adalah
terwujudnya struktur sosial, kreativitas budaya dan daya dukung lingkungan yang
kondusif bagi pembentukan jati diri bangsa, tersebar luasnya perkembangan modal
budaya dan modal sosial, terfaslitasi tumbuh dan berkembangnya budaya
pembelajaran yang berorientasi iptek dan kesenian, terkelolanya aset budaya
yang dapat dijangkau secara adil bagi masyarakat luas, serta terselenggaranya
upaya dan kebijakan pengelolaan keragaman budaya yang komprehensif, sistematis
dan berkelanjutan untuk memperkokoh integritas bangsa.
Dalam
kaitan itu, prioritas perkembangan bidang kebudayaan tahun 2005 diletakkan pada
upaya untuk mengembangkan tumbuhnya apresiasi terhadap kekayaan budaya
nasional, serta memperkuat jati diri bangsa, mengelola keragaman budaya, dan
mengembangkan berbagai wujud ikatan kebangsaan, mengembangkan kebudayaan NTB
sebagai pendorong pengembangan budaya dalam rangka pembangunan ekonomi
masyarakat.
A.
Sosial Budaya yang Mempengaruhi
Kesehatan Ibu dan Anak
1.
Aspek Sosial Budaya dalam
Kesehatan Ibu
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2002/2003 angka kematian ibu
di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100 ribu kelahiran.Tingginya angka
kematian ibu dan bayi sebesar 307 per 100 ribu kelahiran hidup, menjadi salah
satu indikatornya buruknya pelayanan kesehatan ibu dan anak.Kendati berbagai
upaya perbaikan serta penanganan telah dilakukan, namun disadari masih
diperlukan berbagai dukungan.
Permasalahan utama yang saat ini masih dihadapi berkaitan dengan kesehatan
ibu di Indonesia adalah masih tingginya angka kematian ibu yang berhubungan
dengan persalinan. Menghadapi masalah ini maka pada bulan Mei 1988 dicanangkan
program Safe Motherhood yang mempunyai prioritas pada peningkatan pelayanan
kesehatan wanita terutama paada masa kehamilan, persalinan dan pasca
persalinan.
a. Perawatan kehamilan
Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu
diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian
ketikapersalinan, disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan
janin.
b. Memahami perilaku perawatan kehamilan (ante natal care)
Memahami
perilaku perawatan kehamilan adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan
bayi dan si ibu sendiri.Paca berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih
banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan
kodrati.Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan
ataupun dokter.
Masih
banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya
pemeriksaan kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor
resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada
saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa
akibat fatal yaitu kematian.Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya
tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Pada penelitian yang dilakukan yang
dilakukan di RS Hasan Sadikin, Bandung, dan 132 ibu yang meninggal, 69
diantaranya tidak pernah memeriksakan kehamilannya atau baru datang pertama
kali pada kehamilan 7 -9 bulan (Wibowo, 1993).
c. Menikah usia muda
Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya perawatan kehamilan,permasalahan-permasalahan
pada kehamilan dan persalinan dipengaruhi juga oleh faktor nikah pada usia muda
yang masih banyak dijumpai di daerah pedesaan. Disamping itu, dengan masih
adanya preferensi terhadap jenis kelamin anak khususnya pada beberapa suku,
yang menyebabkan istri mengalami kehamilan yang berturut-turut dalam jangka
waktu yang relatif pendek, menyebabkan ibu mempunyai resiko tinggi pacta saat
melahirkan
d. Gizi wanita hamil dengan
kebudayaan
Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah
masalah gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan
pantangan- pantangan terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka
sehari-hari tidak berkurang ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap
beberapa makanan yang sebenamya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya
akan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau
anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama di daerah
pedesaan. Dari data SKRT 1986 terlihat bahwa prevalensi anemia pada wanita
hamil di Indonesia sebesar 73,7%, dan angka menurun dengan adanya
program-program perbaikan gizi menjadi 33% pada tahun 1995. Dikatakan pula
bahwa penyebab utama dari tingginya angka anemia pada wanita hamil disebabkan
karena kurangnya zat gizi yang dibutuhkan untuk pembentukan darah.
e. Ibu hamil lebih mempercayai dukun beranak
Memasuki
masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena
segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan
kematian. Sejumlah faktor memandirikan peranan dalam proses ini, mulai dari ada
tidaknya faktor resiko kesehatan ibu, pemilihan penolong persalinan,
keterjangkauan dan ketersediaan pelayanan kesehatan, kemampuan penolong
persalinan sampai sikap keluarga dalam menghadapi keadaan gawat.
f. jauhnya
pelayanan kesehatan
Kepanikan
dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat
tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Tidak jarang pula
nasehat-nasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan
yang diambil. Keadaan ini seringkali pula diperberat oleh faktor geografis,
dimana jarak rumah si ibu dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak
tersedianya transportasi, atau oleh faktor kendala ekonomi dimana ada anggapan
bahwa membawa si ibu ke rumah sakit akan memakan biaya yang mahal. Selain dari
faktorketerlambatan dalam pengambilan keputusan, faktor geografis dan kendala
ekonomi, keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu
keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi
merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan.
g. Anjuran-anjuran pasca melahirkan
Selain pada
masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada masa
pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan
proses pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya
dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI; ada pula makanan tertentu yang
dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional,
ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan
kondisi fisik dan kesehatan si ibu. Misalnya mengurut perut yang bertujuan
untuk mengembalikan rahim ke posisi semula; memasukkan ramuan-ramuan seperti
daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan
yang keluar karena proses persalinan; atau memberi jamu tertentu untuk
memperkuat tubuh (Iskandar et al., 1996).
B. Apek Sosial Budaya dalam Kesehatan bayi
1. Tradisi
pemberian makanan pada keluarga
Salah satu faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi kondisi kesehatan
bayi adalah makanan yang diberikan. Dalam setiap masyarakat ada aturan-aturan
yang menentukan kuantitas, kualitas dan jenis-jenis makanan yang seharusnya dan
tidak seharusnya dikonsumsi oleh anggota-anggota suatu rumah tangga, sesuai
dengan kedudukan, usia, jenis kelamin dan situasi-situasi tertentu. Misalnya,
ibu yang sedang hamil tidak diperbolehkan atau dianjurkan untuk mengkonsumsi
makanan tertentu; ayah yang bekerja sebagai pencari nafkah berhak mendapat
jumlah makanan yang lebih banyak dan bagian yang lebih baik daripada anggota
keluarga yang lain; atau anak laki-laki diberi makan lebih dulu daripada anak
perempuan. Walaupun pola makan ini sudah menjadi tradisi ataupun
kebiasaan,namun yang paling berperan mengatur menu setiap hari dan
mendistribusikan makanan kepada keluarga adalah ibu; dengan kata lain ibu
mempunyai peran sebagai gate- keeper dari keluarga.
2. Masa
pemberian ASI
Pada beberapa masyarakat tradisional di Indonesia kita bisa melihat
konsepsi budaya yang terwujud dalam perilaku berkaitan dengan pola pemberian
makan pada bayi yang berbeda, dengan konsepsi kesehatan modern.Sebagai contoh,
pemberian ASI menurut konsep kesehatan moderen ataupun medis dianjurkan selama
2 (dua) tahun dan pemberian makanan tambahan berupa makanan padat sebaiknya
dimulai sesudah bayi berumur 4 tahun.
Namun, pada suku Sasak di Lombok, ibu yang baru bersalin selain memberikan
nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya lebih dahulu) kepada bayinya
agar bayinya tumbuh sehat dan kuat. Mereka percaya bahwa apa yang keluar dari
mulut ibu merupakan yang terbaik untuk bayi. Sementara pada masyarakat Kerinci
di Sumatera Barat, pada usia sebulan bayi sudah diberi bubur tepung, bubur nasi
nasi, pisang dan lain-lain. Ada pula kebiasaan memberi roti, pisang, nasi
yangsudah dilumatkan ataupun madu, teh manis kepada bayi baru lahir sebelum ASI keluar. Demikian pula halnya
dengan pembuangan colostrum (ASI yang pertama kali keluar). Di beberapa
masyarakat tradisional, colostrum ini dianggap sebagai susu yang sudah rusak
dan tak baik diberikan pada bayi karena warnanya yang kekuning-kuningan. Selain
itu, ada yang menganggap bahwa colostrum dapat menyebabkan diare, muntah dan
masuk angin pada bayi.Sementara, colostrum sangat berperan dalam menambah daya
kekebalan tubuh bayi.
3. Pola
pemberian ASI
Walaupun pada masyarakat tradisional pemberian ASI bukan merupakan
permasalahan yang besar karena pada umumnya ibu memberikan bayinya ASI, namun
yang menjadi permasalahan adalah pola pemberian ASI yang tidak sesuai dengan
konsep medis sehingga menimbulkan dampak negatif pada kesehatan dan pertumbuhan
bayi.Disamping pola pemberian yang salah, kualitas ASI juga kurang.Hal ini
disebabkan banyaknya pantangan terhadap makanan yang dikonsumsi si ibu baik
pada saat hamil maupun sesudah melahirkan.Sebagai contoh, pada masyarakat
Kerinci ibu yang sedang menyusui pantang untuk mengkonsumsi bayam, ikan laut
atau sayur nangka.
Di beberapa
daerah ada yang memantangkan ibu yang menyusui untuk memakan telur. Adanya
pantangan makanan ini merupakan gejala yang hampir universal berkaitan dengan
konsepsi “panas-dingin” yang dapat mempengaruhi keseimbangan unsur-unsur dalam
tubuh manusia -tanah, udara, api dan air. Apabila unsur-unsur di dalam tubuh
terlalu panas atau terlau dingin maka akan menimbulkan penyakit. Untuk
mengembalikan keseimbangan unsur-unsur tersebut maka seseorang harus
mengkonsumsi makanan atau menjalani pengobatan yang bersifat lebih “dingin”
atau sebaliknya. Pada, beberapa suku bangsa, ibu yang sedang menyusui kondisi
tubuhnya dipandang dalam keadaan “dingin” sehingga ia harus memakan makanan
yang “panas” dan menghindari makanan yang “dingin”. Hal sebaliknya harus
dilakukan oleh ibu yang sedang hamil (Reddy, 1990).
4. Pengobatan
dan penyakit
Menurut Foster dan Anderson (1978: 37), masalah kesehatan selalu berkaitan
dengan dua hal yaitu sistem teori penyakit dan sistem perawatan
penyakit.Sistemteori penyakit lebih menekankan pada penyebab sakit,
teknik-teknik pengobatan pengobatan penyakit.Sementara, sistem perawatan
penyakit merupakan suatu institusi sosial yang melibatkan interaksi beberapa
orang, paling tidak interaksi antar pasien dengan si penyembuh, apakah itu
dokter atau dukun. Persepsi terhadap penyebab penyakit akan menentukan cara
pengobatannya. Penyebab penyakit dapat dikategorikan ke dalam dua golongan
yaitu personalistik dan naturalistik.Penyakit-penyakit yang dianggap timbul
karena adanya intervensi dari agen tertentu seperti perbuatan orang, hantu,
mahluk halus dan lain-lain termasuk dalam golongan personalistik.Sementara yang
termasuk dalam golongan naturalistik adalah penyakit- penyakit yang disebabkan
oleh kondisi alam seperti cuaca, makanan, debu dan lain-lain.
Dari sudut pandang sistem medis moderen adanya persepsi masyarakat yang
berbeda terhadap penyakit seringkali menimbulkan permasalahan.Sebagai contoh
ada masyarakat pada beberapa daerah beranggapan bahwa bayi yang mengalami
kejang- kejang disebabkan karena kemasukan roh halus, dan hanya dukun yang
dapat menyembuhkannya. Padahal kejang-kejang tadi mungkin disebabkan oleh demam
yang tinggi, atau adanya radang otak yang bila tidak disembuhkan dengan cara
yang tepat dapat menimbulkan kematian.
Kepercayaan-kepercayaan
lain terhadap demam dan diare pada bayi adalah karena bayi tersebut bertambah
kepandaiannya seperti sudah mau jalan. Ada pula yang menganggap bahwa diare
yang sering diderita oleh bayi dan anak-anak disebabkan karena pengaruh udara,
yang sering dikenal dengan istilah “masuk angin”.Karena persepsi terhadap
penyebab penyakit berbeda-beda, maka pengobatannyapun berbeda-beda. Misalnya,
di suatu daerah dianggap bahwa diare ini disebabkan karena “masuk angin” yang
dipersepsikan sebagai “mendinginnya” badan anak maka perlu diobati dengan
bawang merah karena dapat memanaskan badan si anak.
Sesungguhnya
pola pemberian makanan pada anak, etiologi penyakit dan tindakan kuratif
penyakit merupakan bagian dari sistem perawaatan kesehatanumum dalam masyarakat
(Klienman, 1980).Dikatakan bahwa dalam sistem perawatan kesehatan ini terdapat
unsur-unsur pengetahuan dari sistem medis tradisional dan moderen. Hal ini
terlihat bila ada anak yang menderita sakit, maka si ibu atau anggota keluarga
lain akan melakukan pengobatan sendiri (self treatment) terlebih dahulu, apakah
itu dengan menggunakan obat tradisional ataupun obat moderen. Tindakan
pemberian obat ini merupakan tindakan pertama yang paling sering dilakukan
dalam upaya mengobati penykit dan merupakan satu tahap dari perilaku mencari
penyembuhan atau kesehatan yang dikenal sebagai
“health seeking behavior”. Jika upaya ini tidak berhasil, barulah dicari
upaya lain misalnya membawa ke petugas kesehatan seperti dokter, mantri dan
lain-lain.
Mitos yang berkembang di
masyarakat diantaranya yaitu :
1) Jika
rambut anak anda basah maka anak anda akan masuk angin
Faktanya, pakar kesehatan Jims Scars mengatakan dari riset yang dilakukan di Ingggris dimana setengah kelompok anak dibiarkan dalam ruangan yang hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup. Setelah beberapa jam, kelompok yang brada di lorong tidak mengalami pilek atau flu. ”kedinginan belum tentu mempengaruhi system kekebalan secara langsung”.
Faktanya, pakar kesehatan Jims Scars mengatakan dari riset yang dilakukan di Ingggris dimana setengah kelompok anak dibiarkan dalam ruangan yang hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup. Setelah beberapa jam, kelompok yang brada di lorong tidak mengalami pilek atau flu. ”kedinginan belum tentu mempengaruhi system kekebalan secara langsung”.
2) Anak
perlu makan ketika kedinginan dan meminum banyak air ketika demam.
Hal yang seharusnya adalah menjaga cairan tubuh merupakan hal terpenting yang harus dilakukan, ketika seseorang banyak cairan maka semakin mudah terkena penyakit. Meski demikian, anak tidak perlu mengkonsumsi minuman elektrolit bila tidak mengalami dehidrasi atau diare.
Hal yang seharusnya adalah menjaga cairan tubuh merupakan hal terpenting yang harus dilakukan, ketika seseorang banyak cairan maka semakin mudah terkena penyakit. Meski demikian, anak tidak perlu mengkonsumsi minuman elektrolit bila tidak mengalami dehidrasi atau diare.
3) Anak
akan kehilangan 75% panas tubuh melalui kepala.
Mitos macam itu berkembang karena keharusan kepala bayi yang baru lahir ditutupi ketika cuaca dingin. Hal itu dibenarkan, karena kepala bayi memiliki prosentase lebih besar daripada bagian tubuh lainnya. Akan tetapi, ketika sudah besar, keluarnya panas melalui kepala kepala hanya 10%, sisanya panas tubuh keluar melalui kaki, lengan dan tangan.
Mitos macam itu berkembang karena keharusan kepala bayi yang baru lahir ditutupi ketika cuaca dingin. Hal itu dibenarkan, karena kepala bayi memiliki prosentase lebih besar daripada bagian tubuh lainnya. Akan tetapi, ketika sudah besar, keluarnya panas melalui kepala kepala hanya 10%, sisanya panas tubuh keluar melalui kaki, lengan dan tangan.
C. Aspek Sosial Budaya dalam Kesehatan Keluarga
Bukan rahasia jika anak-anak
yang berasal dari keluarga miskin lebih rentan menderita penyakit di usia
dewasa. Tidak sedikitpula literatur yang menyatakan anak-anak dari keluarga
dengan statusekonomi rendah lebih sering menderita penyakit flu dan jantung.Anak
yang berasal dari orangtua yang berpendidikan rendah juga lebihberesiko
menderita sindom metabolik, kumpulan gejala penyakit kronik, seperti
hipertensi, gula darah tinggi, serta lemak perut.Kendati begitu, dampak dari
keterbatasan ekonomi bagi kesehatan itu bisa ditangkal jika anak-anak tersebut
memiliki ibu yang mengasuh penuh perhatian.
Dalam studi yang dilakukan tim dari Universitas British Columbia, psikolog
Gregory Miller menganalisa data 1.200 orang dewasa yang pada masa kecilnya
berasal dari keluarga miskin. Para peneliti kemudian melakukan survei pada
responden untuk mengetahui kadar perhatian ibu mereka.
Para peneliti menemukan, meski dari keluarga miskin namun anak-anak yang
diasuh oleh ibu yang memberi perhatian penuh pada kebutuhan emosional anak dan
memiliki ikatan yang kuat dengan anaknya, akan tumbuh menjadi anak yang sehat.
Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science, para
peneliti menyebutkan stres yang dialami anak berpengaruh pada tumbuh kembangnya
dan secara permanen mempengaruhi kemampuan tubuh anak melawan infeksi. Karena
itu ibu yang penuh perhatian dan mengasuh anaknya dengan baik akan meningkatkan
kesehatan anak di masa depan. “Risiko penyakit yang dihadapi anak-anak dari
keluarga miskin itu bisa dikurangi jika orangtuanya memberi perhatian pada
tumbuh kembang anak,” kata Miller.Miller menyarankan, untuk menumbuhkan anak
yang sehat, orangtua dan gurudi sekolah harus bisa mengajarkan cara
pengendalian stres, memberikancontoh yang baik dalam mengelola emosi dan
memberikan rasa aman pada anak.
Ukuran tingkat kematian ibu (the
maternal mortality rate) selain dimanfaatkan sebagai indikator kesehatan
juga digunakan sebagai indikator kesejahteraan rakyat atau kualitas pembangunan
manusia (IPM/HDI), hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa perubahan
ukuran-ukuran tersebut sangat erat kaitannya dengan perubahan kondisi sosial
ekonomi masyarakat Tidak meratanya tingkat angka kematian ibu di Indonesia di
tiap daerah, disebabkan oleh perbedaan kualitas pelayanan kesehatan di tiap
daerah di Indonesia serta perbedaan latar belakang kondisi ekonomi, sosial dan
budaya dari tiap kelompok masyarakat di tiap daerah. Kasus seperti kasus
kekerasan dalam keluarga, perdagangan, tekanan budaya dan adat istiadat,
tingkat pendidikan yang rendah, dan dominasi pria dalam rumah tangga yang
menimpa sebagian besar perempuan merupakan penyebab yang juga turut
mengakibatkan tingginya angka kematian ibu.
Faktor
penyebab tingginya angka kematian ibu di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)
diantaranya disebabkan belum adanya kesadaran dari berbagai elemen -elemen
masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu, tidak terpenuhinya kebutuhan akan
pelayanan kesehatan atau terbatasnya tempat pelayanan kesehatan, juga letak
geografis daerah yang sukar di jangkau oleh tenaga medis untuk memberikan
pelayanan kesehatan, disamping perbedaan latar belakang kondisi ekonomi, sosial
budaya di daerah tersebut. Disamping itu, lemahnya dukungan dan perhatian
pemerintah daerah setempat terhadap kaum perempuan di Provinsi Nusa Tenggara
Barat turut mempengaruhi tingginya angka kematian ibu di daerah tersebut. Hal
tersebut dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan serta program-program yang
dikeluarkan, serta minimnya dana yang dikeluarkan untuk kesehatan ibu atau
untuk menekan angka kematian ibu.
Faktor penyebab lainnya adalah
hubungan tidak harmonis antara dukun tradisional dan bidan desa, sebagai dampak
dari kebijakan pemerintah yang mengharuskan setiap persalinan atau proses
kelahiran harus ditangani oleh bidan desa atau dokter. Dukun di desa yang
sebelumnya memegang peranan penting dalam proses kelahiran di daerah yang sulit
dijangkau harus mengikuti anjuran dari pemerintah. Namun, karena terbatasnya tenaga
medis (bidan desa serta dokter) serta medan geografis yang sulit dijangkau
membuat tenaga medis tidak bisa segera memberikan bantuan persalinan ibu yang
akan melahirkan. Hal tersebut mengakibatkan kondisi ibu yang akan melahirkan
kritis dan akhirnya proses kelahiran kembali ditangani oleh dukun tradisional,
yang notabene tinggal berdekatan dengan pasien. Akibatnya timbul asumsi pada masyarakat bahwa
tingginya angka kematian ibu disebabkan karena tindakan dukun tradisional dalam
proses persalinan, bukan karena keterlambatan penanganan dalam proses
kelahiran.
Minimnya atau tebatasnya tempat
pelayanan kesehatan juga mempengaruhi tingkat angka kematian ibu di Provinsi
Nusa Tenggara Barat yang cukup tinggi. Masalah tersebut timbul disebabkan
banyaknya lokasi yang sulit dijangkau dan juga kurangnya tenaga medis terlatih
untuk menangani masalah – masalah kesehatan terutama pertolongan ibu yang akan
melahirkan. Hal ini turut didukung dengan kurangnya penyuluhan-penyuluhan
tentang kesehatan ibu (kurangnya pemberian materi Komunikasi, Informasi dan
Edukasi/KIE) sehingga menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat akan
pentingnya kesehatan ibu, seperti pengetahuan akan masa sebelum kehamilan, saat
hamil, atau paska persalinan, atau pentingnya asupan gizi bagi ibu hamil.
Masih rendahnya tingkat pendidikan perempuan
di Provinsi Nusa Tenggara Barat juga menyebabkan tingginya angka kematian ibu,
menurut data dari Depertemen Pendidikan Nasional 2002/2003 menyebutkan bahwa
angka buta aksara di daerah tersebut adalah sebanyak 108 untuk laki-laki dan
900 untuk perempuan. Faktor ketidakmampuan membaca dan menulis tersebut turut
mengakibatkan kurangnya informasi atau pengetahuan yang di dapat oleh
masyarakat provinsi tersebut.
Banyak ditemukannnya kasus
ketidaksetaraan gender di masyarakat, membuat perempuan menjadi nomor dua dan
laki-laki yang berkuasa. Membuat perempuan hanya bisa menerima dan menurut
saja. Mengakibatkan timbul tindak kekerasan terhadap perempuan, perempuan tidak
bisa melawan atau memiliki suara. Kekerasan terhadap perempuan merupakan
persoalan berbasis ketidakadilan gender yang terjadi pada masyarakat. Gerakan
suami siaga (siap antar jaga) pun kurang mengubah keadaan, karena rendahnya
tingkat partisipasi pria di daerah tersebut.
Faktor sosial budaya juga menjadi
salah satu penyebab buruknya kondisi kesehatan dan gizi kaum perempuan di
Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kondisi kesehatan ibu dan anak bayi sangat buruk,
tetapi tidak diperhatikan karena dinilai bukan kebutuhan mendesak.
Mungkin masih terdapat banyak faktor-faktor
yang dapat menjadi penghambat proses penurunan angka kematian ibu di Provinsi
Nusa Tenggara Barat, maka diperlukan peran serta semua pihak untuk bisa menekan
tingginya angka kematian ibu.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar